Beranda > Ilmu Pengetahuan > Rangkuman Materi Bahasa Indonesia

Rangkuman Materi Bahasa Indonesia

Rangkuman Materi Bahasa Indonesia

 

Disusun oleh:

Nama    : Muh. Nur Ardian

SMP Negeri 9 Yogyakarta

 

  1. Menggunakan Imbuhan –man, -wan,dan -wati.

    Imbuhan –wan, -man, dan –wati berasal dari bahasa Sansekerta –van dan –vati. Kata-kata berimbuhan –wan dan –wati termasuk kata benda. Imbuhan –wati merujuk pada perempuan sedangkan imbuhan –wan merujuk pada laki-laki. Imbuhan –man merupakan variasi bentuk/alomorf dari imbuhan –wan. Akan tetapi imbuhan –man penggunaanya tidak produktif. Imbuhan tersebut dapat merujuk pada laki-laki atau perempuan.

  • Contoh:
  1. Ardian menjadi hartawan baru setelah bisnis yang baru dirintis telah sukses.
  2. Baju itu terlihat menawan ketika dipakai peragawati.
  3. Seniman memiliki gaya hidup yang bebas.

 

  1. Menggunakan Partikel pun dan Kata Seru.
    1. Partikel pun
      1. Partikel pun ditulis terpisah dari kata yang mendahuluinya, yang berarti juga atau jua.
  • Contoh:

    Ketika terjadi gempa, mereka pun ikut lari menyelamatkan diri.

  1. Selain bentuk pun sebagai partikel, ada juga bentuk pun yang bukan partikel, cirinya adalah bentuk itu sebenarnya tidak memiliki arti, dan penulisannya dipadukan dengan kata yang mendahuluinya.
  • Contoh:

    Walaupun mahal, sepeda itu tetap saja dibelinya.

  1. Kata Seru/Interjeksi

    Kata Seru/Interjeksi adalah kata tugas untuk mengungkapkan rasa hati manusia. Untuk memperkuat rasa hati sedih, heran, dan jijik seseorang memakai kata tertentu disamping kata yang mengandung makna pokok yang dimaksud.

     

    Contoh kata seru interjeksi :

Interjeksi Negatif

Interjeksi Positif

Interjeksi Keheranan

Interjeksi Netral

cih, cis, bah, ih, idih, brengsek, sialan

Alhamdulillah, insya Allah, syukur, amboi, asyik, aduhai

Astaghfirullah, masya Allah, ai, lho

Ayo, hai, halo, he, wahai, astaga, wah, nah, ah, eh, oh, ya, aduh, hem

 

Conoth penggunaan kata interjeksi:

  1. “Alhamdulillah, aku dapat nilai kelulusan yang sempurna” kata Ardian sambil sujud syukur.
  2. Sialan, maling itu berhasil mencuri sepatu di sekolah itu!
  3. Lho, kamu kan Paijo, teman aku semasa TK dulu!

     

  1. Menggunkan Kata-kata Asing yang Diserap ke dalam Bahasa Indonesia.

    Penyerapan kata-kata asing terjadi karena hal berikut:

    1. Kata asing tersebut dianggap lebih cocok konotasinya.
    2. Bercorak internasional.
    3. Lebih singkat dari pada terjemahannya.
    4. Mempermudah cra kesepakatannya karena dalam bahasa Indonesia sinonim terlalu banyak.

     

    Berdasar taraf integerasinya, unsure serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi atas empat golongan yakni:

    1. Adopsi

      Pemakaian bahasa yang mengambil bentuk dan makna kata asing tersebut secara keseluruh.

  • Contoh:

    Terlepas dari ada beberapa ejaan yang luput dari koreksi editor , secara keseluruhan, saya rasa buku ini memang perlu dibaca.

  1. Adaptasi

    Pemakaian bahasa yang mengambil makna kata itu, sedangkan ejaan dan cara penulisannya disesuaikan dengan ejaan bahasa Indonesia.

  • Contoh:

    Maka rasanya wajar bila Budi Darma ,menyamakan pekerja seni yang baik pada dasarnya juga intelektual yang baik. (intelektual è intellectual)

  1. Terjemahan

    Dibagi menjadi:

    1. Terjemahan langsung, yaitu kosakata dari bahasa asing itu dicarikan padanan dalam bahasa Indonesia.
  • Contoh:

    Air port è bandar udara

    Joint venture è usaha patungan

  1. Terjemahan konsep, yaitu kosakata asing diteliti baik-baik konsepnya, kemudian dicarikan kosakata bahasa Indonesia yang konsepnya mirip dengan kosakata asing tersebut.
  • Contoh:

    Vendor è penjual

    Green house è rumah kaca

  1. Kreasi

    Cara kreasi tidak menurut bentuk, yang mirip seperti aslinya ditulis dalam dua pertiga kata sedangkan dalam bahasa Indonesia satu kata saja.

  • Contoh:

    Korupsi è penyalahgunaan keuangan

    Kolusi è persekongkolan

    Handphone è telepon genggam

     

  1. Menggunakan Ungkapan dan Peribahasa.
    1. Ungkapan

      Ungkapan adalah kelompok kata atau gabungan kata menyatakan makna khusus (makna unsur-unsurnya seringkali menjadi kabur)

  • Contoh:

    Sukimin banting tulang setiap hari untuk menafkai anak istrinya. (banting tulang = kerja keras)

  1. Peribahasa

    Peribahasa adalah kalimat ringkas padat yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup, atau aturan tingkah laku.

  • Contoh:

    Seperti mencari jarum ditumpukan jerami, artinya suatu pekerjaan atau suatu perkara yang sulit.

    Tiada gading yang tak retak, artinya tidak ada sesuatu yang sempurna.

  1. Menggunakana Kalimat Inversi secara Tepat.
    1. Adik (S) sedang menyanyi (P).
    2. Mereka (S) mengikuti (P) lomba mewarnai (O).
    3. Usai mewarnai (ket. Waktu), anak-anak polosini (S) langsung membubarkan diri (P).

       

      Dilihat dari posisi subjek dan predikatnya ketiga kalimat tersebut berpola S-P atau subjek ada di depan predikat. Ini menunjukkan fungsi subjek lebih penting daripada predikat. Akan tetapi, ada kalanya unutk menekan pentingnya informasi pada predikat, kalimat disusun dengan pola P-S. Ini berarti funsi predikat ada di depan subjek.,

      Karena berpola P-S, kalimat-kalimat itu disebut kalimat susun balik atau kalimat inverse. Kalau yang akan diinversikan bukan kalimat yang berpola S-P melainkan S-P-O atau S-P-O-K, yang mendekati fungsi predikat dan objek harus ditempatkan di depan subjek.

  • Contoh kalimat inversi:
  1. Sedang menyanyi (P) adik (S).
  2. Mengikuti (P) lomba mewarnai (O) mereka (S).
  3. Langsung membubarkan diri (P) usai mewarnai (ket. Waktu) anak-anak polos ini (S)

 

  1. Unsur Syair, Pantun dan Cerpen.
    1. Syair

      Syair tergolong sebagai jenis puisi lama. Syair diadopsi dari bentuk puisi Arab.

      Dari segi bentuk, syair memiliki perbedaan dengan jenis puisi lainnya.

      Cirri-ciri syair

No.

Ciri-ciri fisik syair

Keterangan

1.

Jumlah kata tiap baris

Satu baris biasanya terdiri dari 4 – 6 kata.

2.

Jumlah baris tiap bait

Tiap bait terdiri dari 4 baris.

3.

Pola persajakan/rima

a – a – a – a

4.

Baris yang merupakan sampiran

Tidak ada baris sampiran. Semuanya adalah baris isi

 

Unsur syair

  • Tema

    Gagasan pokok yang menjadi ide penulisan syair tersebut

  • Amanat

    Pesan yang ingin disampaikan penyair kepada pembacanya.

  1. Pantun

    Unsur Pantun

No.

Ciri-ciri fisik pantun

Keterangan

1.

Jumlah kata tiap baris

Satu baris biasanya terdiri dari 8 – 12 kata.

2.

Jumlah baris tiap bait

Tiap bait terdiri dari 4 baris.

3.

Pola persajakan/rima

a – b – a – b

4.

Baris yang merupakan sampiran

ada baris sampiran(1,2) ada baris isi (3,4)

 

  1. Cerpen
    1. Unsur Instrinsik
  • Tema è gagasan pokok yang diangkat sebagai ide cerita.

    Contoh: percintaan, kesetiakawanan, persahabatan, dsb.

  • Latar è menunjukan kepada waktu dan tempat berlangsung kisah cerita itu.

    Contoh: di sebuah bukit pada pagi hari.

  • Penokohan atau Perwatakan è cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita.

    Dalam menyampaikan karakter tokoh melalui:

    • Penokohan langsung yaitu dalam menuturkan ceritanya, pengarang menyebutkan secara langsung perwatakan tokohnya.
    • Penokohan tidak langsung yaitu dalam menuturkan ceritanya, pengarang tidak secara langsung menyebutkan perwatakan tokohnya.
  • Alur è jalinan peristiwa yang sambung-menyambung membentuk satu-kesatuan cerita.
  • Sudut Pandang èposisi pengarang pada saat menuturkan cerita.

    Sudut pandangan ini ada beberapa jenis, tetapi yang umum adalah:

    • Sudut pandangan orang pertama. Lazim disebut point of view orang pertama. Pengarang menggunakan sudut pandang “aku” atau “saya”. Di sini yang harus diperhatikan adalah pengarang harus netral dengan “aku” dan “saya”nya.
    • Sudut pandang orang ketiga, biasanya pengarang menggunakan tokoh “ia”, atau “dia”. Atau bisa juga dengan menyebut nama tokohnya; “Aisha”, “Fahri”, dan “Nurul” misalnya.
    • Sudut pandang campuran, di mana pengarang membaurkan antara pendapat pengarang dan tokoh-tokohnya. Seluruh kejadian dan aktivitas tokoh diberi komentar dan tafsiran, sehingga pembaca mendapat gambaran mengenai tokoh dan kejadian yang diceritakan. Dalam “Sekelumit Nyanyian Sunda” Nasjah Djamin sangat baik menggunakan teknik ini.
    • Sudut pandangan yang berkuasa. Merupakan teknik yang menggunakan kekuasaan si pengarang untuk menceritakan sesuatu sebagai pencipta. Sudut pandangan yang berkuasa ini membuat cerita sangat informatif. Sudut pandanga ini lebih cocok untuk cerita-cerita bertendens. Para pujangga Balai Pustaka banyak yang menggunakan teknik ini. Jika tidak hati-hati dan piawai sudut pandangan berkuasa akan menjadikan cerpen terasa menggurui.

     

  • Amanat è ajaran moral atau pesan dikatis yang hendak disampaikan pengarang kepada pembaca melalui karyanya.
  1. Unsur ekstrinsik

    Unsur-unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Secara lebih khusus lagi ia dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, tetapi tidak menjadi bagian di dalamnya.

    Contohnya:

  • Asal daerah pengarang
    Pengarang novel yang asalnya dari Jawa, maka novel atau hasil karyanya cenderung dipengaruhi oleh budaya Jawa.
  • Kepercayaan yang dianut
    Pengarang novel yang menganut agama Islam, maka dalam novelnya ia cenderung bercerita sesuai dengan keyakinannya.
Kategori:Ilmu Pengetahuan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: